Post by Dwita Pangesti Ramadhani

Internal Communications Specialist | Corporate Communications | Event Management

2023 menjadi tahun terberat dalam hidup. Kehilangan Papa meninggalkan duka yang sangat dalam. Saat itu, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah; awalnya hanya sebagai distraksi agar tidak terus tenggelam dalam kesedihan. Namun, di tengah perjalanan, saya teringat pesan beliau ketika saya pertama kali mendapatkan pekerjaan: “Nanti kalau sudah settle dan bisa lanjut kuliah, lanjutlah, jangan terlena dengan keadaan ya, Neng” Seketika, pesan itu mengubah 'pelarian' saya menjadi sebuah janji yang harus ditunaikan. Perjalanannya tidak mudah. Terkadang merasa lelah, berkali-kali ingin berhenti. Di saat-saat sulit itu, saya selalu membisikkan satu hashtag untuk diri sendiri: hashtag #OTWICE2025. Karena saya tahu, ICE akan menjadi tempat perayaan akhir dari perjuangan 2 tahun saya. Alhamdulillah, atas izin Allah, perjalanan ini berbuah manis. Saya berhasil menyelesaikan studi ini, lulus dengan predikat Cumlaude. Sebuah pencapaian yang saya dedikasikan sepenuhnya untuk Almarhum Papa. Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa: 1.    Duka bisa diubah menjadi energi positif. Terkadang, titik terendah dalam hidup justru menjadi batu loncatan terkuat jika kita memiliki tujuan. 2.    Jangan pernah terlena dengan zona nyaman. Pendidikan adalah investasi yang harus terus dikejar meski kita merasa sudah "cukup". 3.    Ketangguhan bukan berarti berjuang sendirian. Ketangguhan tidak selalu berarti berdiri sendirian. Terkadang, memiliki keberanian untuk bersandar pada mereka yang kita percaya adalah bentuk kekuatan yang sesungguhnya, bukan sebuah kelemahan. Allah Maha baik. Bersyukur dikelilingi oleh orang-orang hebat yang tidak membiarkan saya menyerah. Teruntuk Suami, Moch Chafidh A. yang selalu mendukung tanpa henti dan melarang keras saya untuk berhenti di tengah jalan. Terima kasih sudah menjadi penguat. Akhirnya, kita sampai juga di titik ini. Hormat dan terima kasih kepada Prof Melly Ridaryanthi selaku Dosen Pembimbing. Terima kasih Ibu, atas kesabarannya membimbing Tesis saya sampai selesai, selalu memberikan waktu di tengah kesibukan. Terima kasih Mas Irman Anugrah, Ibu Putrianti Sulistyojati, Pak Harry Anggoro yang memberikan ruang untuk berkembang. Terima kasih juga untuk keluarga besar PT Mitra Solusi Telematika. Teman-teman HCSS, tanpa dukungan, pengertian, dan semangat dari kalian semua, saya tidak akan mungkin berada di titik ini hari ini Kartika Anindita, Galuh Pratiwi, Faisal Fachri, Afifah Dwi Istiandieni, Novita Barselia, Tamara Ersa Putri Dewi, Dwi Adyaksa, Angel Lee Tawas, Nazira Dyah M. Teman-teman seperjuangan, Magister 43 yang selalu support, merangkul, dan menguatkan. Tanpa semangat dan kebersamaan kalian, perjalanan 2 tahun ini tidak akan terasa semanis ini. Kita berhasil! 💯 Meskipun kurang lengkap karena hadirnya Papa sudah tidak lagi di sisi, saya yakin doa dan kasih sayang Papa tetap memeluk saya setiap hari. Semoga dari tempat terbaik di sana, Papa bisa merasakan rasa bangga dan bahagia yang sama. Al-Fatihah 🤍 🥀

Post contentPost contentPost contentPost contentPost contentPost contentPost contentPost content